Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

CINTA TERSELIP DUKA


CINTA TERSELIP DUKA
Hikmah


“Believe in me, May!!!please!!!” Baru kali ini rasanya dia memohon pada orang sampai meneteskan air mata. Entah apa yang saat itu dia rasakan. Dan dia…
“sudah!!! It’s over!!!”
“tapi May, aku masih cinta kamu...”
”hah...cinta??? kamu bilang apa?! Sudahlah keputusanku sudah final, aku nggak mau lagi terikat dengan kamu!!”
”May...May....”

***

Rasanya seperti teka-teki silang yang sering kumainkan, penuh misteri. Sama seperti hidupku. Kadang aku berhasil mengisi kotak-kotak itu secara vertikal namun ada kalanya horizontal tapi tak pelak aku berhenti, berpikir sejenak. Huruf-huruf yang muncul di benakku kadang tak bisa cocok dengan jawaban yang seharusnya pas dengan pertanyaan yang tertera di buku tipis itu. Lama aku berdiam mencari jawaban yang tepat untuk itu, untuk hidupku.
”Ma, tolong panggilin Vera. Papa mau ngomong sama dia.”
“Tok..tok...Papa kenapa?”  Kupijat kakinya yang terbaring lemah. Kupegangi erat tangan Papaku saat wajahnya berubah serius.
“Papa mau  ngomong sesuatu yang telah lama Papa sembunyikan dari kamu. Tapi sebelumnya Papa mohon kamu jangan marah sama Papa...”
“Sesuatu??? Vera jadi penasaran.” Segera kubetulkan posisiku dan kunaikkan  beberapa helai rambutku ke atas telingaku. Aku tak sabar dengan keseriusan Papaku yang membuatku benar-benar penasaran.
“Janji kamu nggak akan marah?”
“Memang apa sih yang mau Papa omongin?! Vera nggak akan marah kalau itu nggak bikin Vera marah.”
”Benar kamu nggak akan marah???”
”Ihh...Papa. Cerita dulu! Baru Vera mutusin marah atau nggaknya.” Kupaksa Papaku untuk cerita sambil kucubit pipinya. Salahnya sampai membuatku penasaran.
”Ok...Papa akan cerita..” Helaan nafasnya terasa sangat berat. Wajahnya mulai memerah. Sebenarnya apa yang ingin Papaku ceritakan sampai ia mengeluarkan bulir keringat? Sesuatu yang sulitkah hingga detik ini Papa enggan menceritakannya? Entahlah. Yang pasti aku ingin segera mendengarkannya.
”Papa sangat sayang sama kamu, Ver. Sayang banget. Papa nggak mau kehilangan kamu...Mungkin inilah saatnya Papa beberkan semua peristiwa yang telah terjadi dalam hidup Papa, hidup kamu dan....” Basah. Tetesan air matanya jatuh di atas pergelangan tangan kananku. Papaku mulai bercerita. Matanya pun menerawang ke masa lalu.
”selama ini Papa bersalah sama kamu dan...” kalimat Papa selalu terputus ketika mengucapkan kata ’dan’. Apa yang terjadi? Kenapa Papa meneteskan air mata?
”dan kenapa Pa???”
”Papa nggak ingin kamu tahu yang sebenarnya. Papa dan Mamamu bertekad menyimpan masa lalu kami, masa lalumu rapat-rapat dalam peti besi di palung hati kami sampai Papa sakit seperti ini. Akhir-akhir ini Papa selalu dihantui perasaan bersalah dan bayang-bayang wajah dia...hingga Papa jatuh sakit seperti ini, itu karena kesalahan Papa sendiri.”
”tunggu! Dia siapa yang Papa maksud?” aku sama sekali nggak ngerti sama omongan Papa. Pasti kesalahan besar yang pernah Papa lakukan sampai ia merasa dihantui seperti itu.
”sebenarnya...”
 Papa terus mengutarakan perasaannya dan mengungkap tabir rasa penasaranku. Matanya tak henti mengalirkan tangis. Tangannya semakin erat dalam genggamanku. Aku merasakan keberadaan Papa di masa lalunya. Masa lalu yang membuat tangisnya menjadi. Panjang lebar ia bercerita sampai akhirnya...
”nggak mungkin!!”
”it’s true, Ver.”
”tapi kenapa Papa sembunyikan itu dari Vera? Kenapa Papa menutupi kebenaran?!” Aku benar-benar tidak tahu akan hal yang dibicarakan Papa. Papa dan Mama terlalu rapat menutupinya. Menutupi kebohongan yang harusnya diceritakan padaku.
”Vera maafin Papa. Papa memang salah sudah berbohong sama kamu...Papa sayang sama kamu. Papa nggak ingin kehila..ngan ka..mu...Tuhan ampunilah a..ku. La..ilaha..illa..Allah.” Suara Papa semakin mengecil.
”Papa...Papa kenapa???”
”Hugh...Hugh...Tolong maafin Pa..pa.”
”Mama...Mama...” Seketika itu tangan Papa lepas dari genggamanku.
”Ada apa Ver?!”
“Papa, Ma. Cepat panggilin dokter!!” Mama baru mau melangkahkan kakinya keluar ruangan untuk memanggil dokter ketika Papa menarik nafas yang terakhir. Papa menghembuskan nafas terakhir setelah mengucap kalimat tauhid walau aku tak begitu jelas mendengarnya dan setelah ia menceritakan kebenaran yang begitu pahit. Memang harusnya kebenaran itu diutarakan walau sepahit, sehambar apa pun itu.
“Papa...hiks...hiks...Papa jangan pergi!!! Papa belum bilang siapa nama Mama aku!! Papa...” Mama datang bersama dokter Ridwan dengan perasaan tak menentu. Matanya bercucuran tangis, tangis kematian suaminya.
”Bapak Santoso sudah meninggal.”
”Vera kenapa nggak mencet tombol itu? Saya kan bisa langsung kemari, Ibu pun nggak perlu memanggil saya langsung ke ruangan saya.”
”Maaf, Dok. Vera kalut. Vera lupa ada tombol di sana.” Ya...aku lupa kalau tombol hijau itu ada dalam ruangan itu untuk memanggil perawat atau dokter yang menangani Papa. Tombol di sebelah kanan Papa, di dinding yang bercat biru muda seperti birunya air laut yang menentramkan namun tidak bagiku saat itu. Papa terbujur kaku di atas ranjang besi RS Medistra. Ajal telah memanggil Papa dalam dekapnya. Tidak ada yang bisa menghentikan atau memajukan datangnya kematian tidak juga aku maupun dokter Ridwan.
“Vera...Papa, Ver. Huhu...huhu...” aku bisa merasakan kesedihan Mama lantas kupeluk Ibuku itu, Ibu yang selama ini kupanggil Mama tetapi bukan Ibu yang melahirkanku dari rahimnya. Untuk itu aku bertekad mencari Ibu kandungku, Ibu yang selama sembilan belas tahun ini tak pernah wajahnya melintas di benakku. Tak pernah aku melihatnya.
  
***

”Nduk...ini obatnya. Diminum ya! Sudah toh nduk, jangan seperti ini. Mbok jadi nggak tega. Mbok kepingin kamu seperti dulu.”
”Pergi...pergi!!!”
”Non...ini Mbok.”
”Pergi...pergi!!!”
”Kamu!!! Aku bunuh kamu...aku cekik leher kurusmu itu!!!
”Non, istighfar Non...ini Mbok... Sudah jangan dipikirkan lagi. Biarkan itu berlalu Non. Kamu harus bangkit dan melupakan segala yang membuat kamu seperti ini.
”Prakkk... pergi atau benda ini akan melukai kulit kesayangan suamiku!”
”Baiklah Non. Mbok akan keluar dari kamarmu. Mbok ada di dapur kalau kamu perlu apa-apa, panggil Mbok ya”.
”Gusti Allah..kenapa Kau bebankan ia dengan derita yang seperti ini?!”

***

”Vera...tunggu!!! Kamu mau ke mana?!”
”Vera mau cari Mama kandung Vera!!!”
”Kamu mau cari ke mana? Namanya saja kamu nggak tahu.”
”Pokoknya Vera akan cari. Keputusan Vera sudah bulat!!!”
”Vera..!” Terus saja kutancap gas mobilku. Memang aku nggak punya petunjuk keberadaan Ibu kandungku. Jangankan tempat tinggalnya, betul kata Mama. Aku tidak tahu namanya.
Sebulan setelah kematian Papa, aku mencoba untuk mengungkap siapa sosok Ibuku yang sebenarnya. Waktu itu Papa belum sempat memberi tahu tentang Ibu kandungku. Papa hanya bilang, Ibu yang selama ini aku panggil Mama bukanlah Ibu yang mengandung dan melahirkanku. Mama Risma adalah Ibu tiriku. Papa bercerai dengan ibu kandungku dan menikahi Mama Risma. Tapi pernikahannya dengan Mama Risma tidak dikaruniai anak. Aku adalah anak tunggal mereka.
”Kenapa mereka begitu rapat menyimpan kebohongan ini? Sembilan belas tahun aku nggak tahu kebenaran tentang diriku sendiri. Sembilan belas tahun aku nggak pernah lihat Mama yang melahirkanku?! Bodoh!!!”
”Sekarang aku harus ke mana mencari Mamaku???” Ya Allah bantu aku menemukan Ibuku. Beri aku petunjukMu Tuhan...

***

”Cittt...” Akhirnya aku pergi ke rumah Pakdeku. Adik kandung Papa. Aku ingin menanyakan keberadaan Mamaku.
”Tok...Tok...Assalamu’alaikum...”
”Wa’alaikumussalam...Vera? Ayo mari masuk. Kamu sudah gede ya. Terakhir kali kamu ke sini, kamu masih kecil segini sekarang udah tinggi, cantik pula.” Pakde memainkan tangannya seraya mengusap rambutku. Pasti komentar pertama saat ke rumah pakde seperti itu ’kamu sudah besar ya, kamu sudah tinggi melebihi Pakde’. Padahal aku lumayan sering lho mampir ke rumah Pakde.
”Ada apa toh kamu ke sini? Pasti ada masalah ya? Kamu kan kalau dolan ke rumah Pakde selalu kacau begini. Lihat tuh tampang kamu, kusut. Yo cerita toh sama Pakde! Mungkin Pakde bisa bantu kamu.” Pamanku memang selalu bisa diandalkan. Aku jadi malu sama Pakde. Setiap ada masalah aku kadang merepotkannya.
”Gini Pakde...Vera mau tanya alamat Mama.”
”Hah??? Kan kamu serumah sama Mamamu?” rasanya perlu cerita dulu ke Pakdeku.
”Bukan Mama Risma tapi Mama kandungku. Vera udah tahu kalau Vera bukan anak kandung Mama Risma.”
”Hmmm...”
”lalu??? Di mana Mama, Pakde?”
”Mama kamu tahu kalau kamu nyari Ibu kandung kamu?”
”Awalnya Mama nggak tahu kalau Vera sudah tahu tentang diri Vera. Sebelum meninggal, Papa sempat cerita tapi Mama nggak tahu itu. Vera terus mikir apa yang mesti Vera lakuin dan sebulan setelah itu Vera akhirnya tanya Mama yang sebenarnya. Tapi Mama nggak mau bilang. Lalu Vera ke sini. Ke rumah Pakde.”
”O gitu...”
”jadi Pakde mau kan ceritain ke aku yang sebenarnya? Waktu itu Papa belum selesai cerita tapi...”

***

”Aku harus temuin Mama!!!” Laju mobilku semakin kencang. Tak terasa aku sampai di sebuah rumah berpagar besi yang bercat golden. Rumah yang lumayan besar berlantai dua dan berwarna oranye dindingnya.
”Apa benar ini rumah Mama?” Gumamku kalut.
”Permisi...Pak boleh minta waktunya sebentar? Saya mau nanya. Betul ini rumah Ibu May?” Satpam yang kutemui di depan pagar rumah itu berperawakan garang namun saat ditanya ia menjawab dengan lembut beda dengan tampangnya.
”O...bukan Mbak. Ini rumahnya Ibu Ketrin.” loh...benarkan ini alamatnya. Jalan Merpati 2 no. 14 Jakarta Selatan. Pakde nggak mungkin Bohong.
”Bisa tolong panggilin beliau nggak Pak?”
”Tunggu sebentar ya Mbak...”
”Permisi...saya Vera Santoso. Maaf sebelumnya sudah mengganggu Ibu...”
“Kathrine. Ya nggak pa pa.”
“Saya mau tanya. Ini benar alamat yang di sini?” Sambil kuperlihatkan secarik kertas yang diberikan Pakde padaku.
“Benar. Tapi ini bukan rumahnya Ibu Maysarah.”
“Apa sebelumnya rumah ini pernah ditinggali Ibu May?”
“kalau itu saya kurang tahu. Saya di sini sudah hampir sepuluh tahun. Tapi waktu saya beli rumah ini bukan sama Ibu May.” Apa??? Sepuluh tahun? Jadi di mana Mama sekarang?
”Maaf sudah mengganggu. Terima kasih atas informasinya.” Akhirnya aku memutuskan pulang dan aku akan menanyakan hal ini ke Mama. Aku ingin tahu yang sebenarnya telah terjadi selama ini.

***

”Mama...Mama..”
”kamu...” Belum sempat Mama menyelesaikan kalimatnya. Aku langsung menyambar.
”Apa yang sebenarnya terjadi Ma? Kenapa aku nggak tahu? Kenapa kalian menutupi semua ini. Aku berhak tahu tentang siapa sebenarnya Ibu kandung aku. Mama harus cerita sama aku. SEKARANG!!!”
”Ok..kalau itu mau kamu. Tapi Mama minta kamu tenang. Dan setelah Mama cerita kamu nggak boleh ninggalin Mama!” Kami berdua pun duduk di ruang tamu dengan galau terlukiskan di wajah kami.
”Dulu...Mama dan Ibu kandungmu adalah sahabat karib. Mulai dari SMA hingga Perguruan Tinggi kami selalu bersama. Suatu hari, saat kami makan di kantin kampus. Ada seorang pria yang memperhatikan Ibu kamu...”
”Pria itu, Papa?”
”Ya benar sekali. Mereka saling menyukai dan panjangnya mereka memutuskan untuk menikah muda. Saat itu Ibumu, May berumur 22 tahun sedang ayahmu hanya terpaut satu tahun di atas Ibumu.”
”Lalu...?”
”Setahun setelah pernikahan, mereka dikaruniai anak yaitu kamu, Ver.”
Trus kenapa mereka bercerai kalau mereka saling suka?!”
”Mama juga nggak ngerti...kenapa Papa kamu bercerai dan akhirnya menikahi Mama.”
”Tapi waktu itu...” Mama berusaha mengingat kembali, mengulang ke masa lalu.
“Believe in me, May!!!please!!!”
Baru kali itu rasanya dia memohon pada orang sampai meneteskan air mata. Entah apa yang saat itu dia rasakan. Dan dia…
“sudah!!! It’s over!!!”
“tapi May, aku masih cinta kamu...”
”hah...cinta??? kamu bilang apa?! Sudahlah keputusanku sudah final, aku nggak mau lagi terikat dengan kamu!!”
”May...May....”
”Mama juga bingung...saat itu May menuduh Papamu selingkuh. Dan mereka bercerai. Papa kamu berhasil mendapat hak asuhmu dengan membayar lima orang pengacara sekaligus...”
Setelah mendengar cerita Mama, aku langsung berlari ke luar rumah dan bergegas menuju mobil Honda Jazz hitam kesayanganku. Mama memberiku alamat adiknya Ibu kandungku. Satu-satunya petunjuk yang harus aku manfaatkan dengan baik.

”Permisi...” Seorang gadis yang mungkin seumuran denganku keluar.
”ya mau cari siapa?” Pasti dia sepupuku.
”Sipa Tin?” Teriakan suara dari dalam mengejutkanku. Pasti itu adiknya Mama.
”saya Vera Tan...anaknya Ibu may...” tak disangka air mataku meleleh.
”apa??!” wajah tanteku langsung berubah. Alisnya digerakkan ke atas. Ia tampak terkejut saat aku bilang, aku anaknya Ibu May.
”ke mana aja kamu? Sudah sebesar ini baru mencari Ibu kamu.”
”Vera baru tahu Tan kalau Vera bukan anaknya Mama Risma. Sebelum meninggal Papa cerita.”
”Jadi Papa kamu sudah mati.” Astaghfirullah...nada bicara Tanteku seakan menang waktu kubilang Papa sudah meninggal.
”Pergi kamu dari sini. Jangan injak lagi rumah saya. Tanyakan saja sama Mamamu itu.”
”Tante...plizz..kasih tahu aku di mana Mama.”
”Pergi...Pergi!!!”
Akhirnya aku pilang dengan tangan kosong  tanpa satu pun informasi tentang keberadaan Mama.
”Aku akan minta tolong Mama Risma mencari Mama.” Pikirku saat itu.

***

Setelah hampir dua bulan melakukan pencarian. Akhirnya aku yang dibantu Mama menemui titik terang keberadaan Mamaku, Ibu kandungku.
Aku pergi tanpa Mama karena kata Mama, itu akan membuka luka lama yang telah lama dikubur.
”Assalamualaikum...Permisi.”
”waalaikum salam.” seorang perempuan tua menjawab salamku. Dan kupikir itu pasti nenekku.
” Nek...ini Vera...anak Mama May...”
”Ya Allah Gusti...Vera anak Non? Mari masuk...”
”Mama mana Nek...?”
”Noni ada di belakang. Ayo masuk...” kulangkahkan kakiku dengan perasaan bahagia yang membuncah karena pencarianku nggak sia-sia. Alhamdulillah... aku bisa menemukan Ibu aku.
”Non...Noni...anakmu datang.”
”Nenek...” Kami berjalan menyusuri ruangan yang ada di rumah ini.
”Sebenarnya Mbok bukan Ibu Mama kamu tapi Mbok adalah saudara perempuan Nenek kamu. Nenek kamu sudah lama meninggal. Maklum penyakit tua. Dulu Mama kamu tidak tinggal di sini tapi di jakarta selatan. Karena Nenek kamu sakit-sakitan Mama kamu menjual rumah itu untuk biaya berobat, tapi Gusti Allah berkehendak lain Nenek kamu meninggal kemudian Ibu kamu  jadi seperti ini. Noni Maysarah depresi setelah bertubi-tubi mendapat musibah. Perceraiannya dengan Bapakmu yang disusul pernikahan Santoso dengan sahabat karib Ibu kamu menambah beban pikirannya kemudian Nenekmu dipanggil Yang Kuasa.”
”sekarang beginilah keadaannya. Ia sangat merindukanmu. Noni selalu memanggil-manggil kamu. Mbok ndak bisa berbuat banyak maklum Mbok sudah uzur.”
”Mama...Mama...Ini Vera, anak Mama...”
Kudekap erat tubuhnya, kuciumi keningnya. Ibuku...Ibu yang mengandung dan melahirkanku. Kau adalah Ibuku. Apa adanya dirimu. Aku sayang Ibu.

***


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS