Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Outmind


My life is my life
No one can burst into and ask me to change it
I completely and totally have my own life
No one can bother to make me look for another blurt life
Yes, I have my own life
Only me, can claim that it is the right and wrong real action toward it till I get the prize on my own life!!!
I am strongly not your possession!!!
                                                I won’t let you get into my life!!!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

sekadar coretan


Aku adalah aku...tak akan berubah jadi dirimu...
Perdebatan panjang setelah mati mencuat…
Dahsyat…
Hebat…
Kata-kata sayang bermunculan…
Kata-kata kasih naik ke permukaan...
Kata-kata cinta pun tak ingin kalah…
Bersaing dalam misi yang tak jelas aral dan tujuan..
Adakah artinya lagi setelah semua ini terjadi...
Sebenarnya siapa yang bodoh...diriku...dirimu...atau diri kalian semua????
Aku tidak membodohi diriku...dirimu bahkan diri kalian...
Ini aku...bukan dia...bukan kamu...
Bukan juga kalian...
Aku tidak akan semudah itu melontarkan kata-kata yang menurutku memuakkan diriku...jiwaku...dan bahkan itu semua menjauhiku dari naluriku sendiri...
Tahukah kamu??? aku adalah aku...dan aku tak kan memunafikkan diriku akan kata-kata gombal...kata-kata picik seperti itu...
Hentikanlah...
Sebelum asamu lepas...
Sebelum langkahmu melambat...
Biarkan burung nuri terbang bebas tanpa kekangan, tanpa jeratan, tanpa kungkungan...
Jujur...
Aku muak dengan pikiran yang membolak-balikkan masa lalu...
Muak dengan hal-hal omong kosong...
Menyakitkan...tapi jelas itu tidak membuatmu jera akan kata-kata busukmu...
Diamlah dan berpikir...
Pikiranmu akan menuntunmu...
Jika itu tak membuatmu diam...bungkam mulutmu dengan dosa-dosa hina yang telah kau lakukan...
Sekali lagi...aku adalah aku yang takkan membiarkan jiwaku gila dalam lamunan tentang dia...
Aku takkan menelajahwantahkan peringatan yang ia bawa...dan sumurku takkan kugali dengan kumpulan kisahnya yang berubah jadi dosa berkala...tumpukan sampah kotor dalam hidup yang tak hanya hidup...dalam tidur yang tak hanya mimpi...
ada kisah...
ada peringatan...
ada tanda...
apakah sadar kita sama hanya dengan membulatkan mata???


CITAKU

Temaram matahari kian menyurutkan dahsyatnya
inginku memikat seuntai cinta-Nya
menukik hasrat saat kutilang kerdil di atas
hinggap di pepohonan rindang
menari asaku
menangkap cita di atas sana...

MIMPI BURUK

Memori bulan lalu memaksaku lelap hanya dalam sekejap
Peluhku turun deras
Mengoyak bayangan yang singgah di benak
Satu kata tak bisa terucap
Ternganga...
Bisu melekat

JANJI PALSU

Janji, janji, dan s’lalu janji
Lontaran kalimat kerap kali memikat
Tetapi jabatan dan kekayaan lebih nikmat
Tak perlu kerja berat asal menjabat, uang didapat
Satu, dua ide terlintas
Dijalankanlah tipu muslihat
Rakyat terjerat seperti dalam perangkap
Semua dilibas

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

SEMENIT BERSAMA IBU


“Hilang…” Bayanganku seakan buram, mengingat sosok itu. Terus kulangkahkan kaki yang seakan kian menyeret langkah yang mulai tertatih. Ototku seakan putus dari sambungannya. Tapi aku tak ingin menyerah.
“Ya.Aku tak boleh menyerah!!!” Meski langkah tak kuat lagi, lelah menghinggapi, dan peluh membanjiri. Aku tak akan kalah. Aku akan menemukan itu.
Setiap lorong yang kutemui, aku hanya menemukan orang-orang dengan itu tanpa ikhlas, tanpa keluwesan. Kulirik lorong yang berikutnya, lorong tanpa nama, juga kutemukan sekumpulan pria yang lebih sedikit dari wanita dengan itu tanpa ingin menunjukkannya. Ke mana sosok yang menghilang tadi? Sosok yang selalu hilang saat aku ingin melihatnya, selalu kelabu saat aku ingin mengingatnya.
Ketika aku berhenti, menarik napas kemudian menghelanya kembali, tak sengaja pandanganku tertuju pada seseorang yang sedang duduk di bawah pohon tak jauh dari lorong tanpa nama itu. ‘Ah…mungkin dia bisa membantu’ pikirku. Seseorang itu duduk dengan pandangan kosong menuju patung di hadapannya. Patung itu pun menatap tanpa bisa berkata.
“Permisi, apakah Tuan melihat seseorang yang melintas di…”
“Tidak. Tidak pernah.” Kenapa orang tua ini langsung berkata tidak padahal aku belum sempat menyudahi perkataanku?
 “Hei kau..tidak lihatkah kau patung itu? Dia sama seperti kau. letih mencari. Selalu berdiri dengan tangan menunjuk seolah menuding siapa saja yang lewat. Matanya tanpa binar tapi berambisi”.
 Sinting!! Apa maksudnya!!! Pria berkulit gelap itu melotot ke arahku kemudian berpaling lagi memandang patung yang di sekelilingnya dipagari besi biru yang memudar dan telah berkarat itu.
”Maksud Anda?”
”Dia itu pejuang, mencari keikhlasan. Patung itu bosan kepalsuan. Bosan kemunafikan.”
Aughh!!! Tak ingin rasanya berada di tempat ini lebih lama lagi bersama orang sinting seperti dia. Mengutarakan yang tidak jelas.
”Aku tak bisa menemukan apa yang dinamai kerelaan. Aku sedih...hoaak...” Tiba-tiba pria itu meledakkan tangisannya. Memaki pada patung yang tak bersalah. Melemparinya dengan tanah. Seolah tak ingin terkena makian dan lemparannya, aku pun pergi meninggalkan pria berpeci putih dengan baju kusam yang melekat di badannya.
Hari semakin senja, tapi aku belum menemukan sosok yang selama ini aku cari, dan aku nanti. Sosok yang selalu sabar penuh perhatian. Sosok yang tak pernah mengumbar itu dengan sombong. Seperti malaikat penjaga.
”Harus ke mana lagi kucari?” bisikku pada naluri.
Aku kehilangan itu pada setiap orang yang kulihat, kutemui di seluruh tempat yang telah kulewati. Tapi hanya sosok yang berkelabat di mataku itu bisa kudapatkan, menyejukkan hatiku yang kadang memanas, menenangkan saat aku gelisah.
 Telah lama aku kehilangan sosoknya, semenjak aku menginjakkan kaki di bumi yang semakin tua ini. Entah kenapa belakangan, dia hadir di hadapanku sepintas lalu. Mungkinkah karena aku telah kehilangan itu sehingga sosoknya yang bertubuh mungil  menghampiriku di sela-sela lengang maupun sibukku? Sosok yang bernama Ibu. Dan tak akan tergantikan walau seribu wanita menyerupai dirinya dengan itu yang merekah. Ya...senyum. senyum yang mendamaikan. Ibu yang penuh keramahan dengan senyumannya yang ikhlas walau beban di pundaknya begitu berat. Berat karena menanggung derita tanpa suami. Tapi ia seakan bebas setelah Tuhan merengkuhnya dalam dekapan kasih.
’Plok...’Hah...hah napasku tersengal ketika sadar aku hanya bermimpi mengejar senyum ibuku yang telah hilang menjauh. Ya berlari dalam mimpi. Saat detik pertama membuka kelopak mataku, Ibu berdiri dengan senyum indah di pipi kemudian pergi.
Terbuai aku dalam khayal sampai menidurkanku. Dan tersadar ketika buku di rak pojok itu jatuh hingga bersuara membangunkanku.



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS