“Hilang…” Bayanganku seakan buram, mengingat sosok itu. Terus kulangkahkan kaki yang seakan kian menyeret langkah yang mulai tertatih. Ototku seakan putus dari sambungannya. Tapi aku tak ingin menyerah.
“Ya.Aku tak boleh menyerah!!!” Meski langkah tak kuat lagi, lelah menghinggapi, dan peluh membanjiri. Aku tak akan kalah. Aku akan menemukan itu.
Setiap lorong yang kutemui, aku hanya menemukan orang-orang dengan itu tanpa ikhlas, tanpa keluwesan. Kulirik lorong yang berikutnya, lorong tanpa nama, juga kutemukan sekumpulan pria yang lebih sedikit dari wanita dengan itu tanpa ingin menunjukkannya. Ke mana sosok yang menghilang tadi? Sosok yang selalu hilang saat aku ingin melihatnya, selalu kelabu saat aku ingin mengingatnya.
Ketika aku berhenti, menarik napas kemudian menghelanya kembali, tak sengaja pandanganku tertuju pada seseorang yang sedang duduk di bawah pohon tak jauh dari lorong tanpa nama itu. ‘Ah…mungkin dia bisa membantu’ pikirku. Seseorang itu duduk dengan pandangan kosong menuju patung di hadapannya. Patung itu pun menatap tanpa bisa berkata.
“Permisi, apakah Tuan melihat seseorang yang melintas di…”
“Tidak. Tidak pernah.” Kenapa orang tua ini langsung berkata tidak padahal aku belum sempat menyudahi perkataanku?
“Hei kau..tidak lihatkah kau patung itu? Dia sama seperti kau. letih mencari. Selalu berdiri dengan tangan menunjuk seolah menuding siapa saja yang lewat. Matanya tanpa binar tapi berambisi”.
Sinting!! Apa maksudnya!!! Pria berkulit gelap itu melotot ke arahku kemudian berpaling lagi memandang patung yang di sekelilingnya dipagari besi biru yang memudar dan telah berkarat itu.
”Maksud Anda?”
”Dia itu pejuang, mencari keikhlasan. Patung itu bosan kepalsuan. Bosan kemunafikan.”
Aughh!!! Tak ingin rasanya berada di tempat ini lebih lama lagi bersama orang sinting seperti dia. Mengutarakan yang tidak jelas.
”Aku tak bisa menemukan apa yang dinamai kerelaan. Aku sedih...hoaak...” Tiba-tiba pria itu meledakkan tangisannya. Memaki pada patung yang tak bersalah. Melemparinya dengan tanah. Seolah tak ingin terkena makian dan lemparannya, aku pun pergi meninggalkan pria berpeci putih dengan baju kusam yang melekat di badannya.
Hari semakin senja, tapi aku belum menemukan sosok yang selama ini aku cari, dan aku nanti. Sosok yang selalu sabar penuh perhatian. Sosok yang tak pernah mengumbar itu dengan sombong. Seperti malaikat penjaga.
”Harus ke mana lagi kucari?” bisikku pada naluri.
Aku kehilangan itu pada setiap orang yang kulihat, kutemui di seluruh tempat yang telah kulewati. Tapi hanya sosok yang berkelabat di mataku itu bisa kudapatkan, menyejukkan hatiku yang kadang memanas, menenangkan saat aku gelisah.
Telah lama aku kehilangan sosoknya, semenjak aku menginjakkan kaki di bumi yang semakin tua ini. Entah kenapa belakangan, dia hadir di hadapanku sepintas lalu. Mungkinkah karena aku telah kehilangan itu sehingga sosoknya yang bertubuh mungil menghampiriku di sela-sela lengang maupun sibukku? Sosok yang bernama Ibu. Dan tak akan tergantikan walau seribu wanita menyerupai dirinya dengan itu yang merekah. Ya...senyum. senyum yang mendamaikan. Ibu yang penuh keramahan dengan senyumannya yang ikhlas walau beban di pundaknya begitu berat. Berat karena menanggung derita tanpa suami. Tapi ia seakan bebas setelah Tuhan merengkuhnya dalam dekapan kasih.
’Plok...’Hah...hah napasku tersengal ketika sadar aku hanya bermimpi mengejar senyum ibuku yang telah hilang menjauh. Ya berlari dalam mimpi. Saat detik pertama membuka kelopak mataku, Ibu berdiri dengan senyum indah di pipi kemudian pergi.
Terbuai aku dalam khayal sampai menidurkanku. Dan tersadar ketika buku di rak pojok itu jatuh hingga bersuara membangunkanku.






0 komentar:
Posting Komentar